Kamis, 07 Agustus 2014

4 Cara Hadapi Orang Berkarakter Buruk

Monday, 4 August 2014  3 hari yang lalu   (hits 338)


Sebagai pebisnis, seringkali Anda harus menghadapi orang-orang berkarakter buruk, misalnya pengeluh, pengkritik, pemarah, orang yang suka menyalahkan orang lain, atau mereka yang suka menindas. Jangan cemas karena Anda bisa melatih diri untuk menghadapi orang-orang ini dan tetap dapat bekerja dengan baik.
Menurut psikiater Mark Goulston, ada beberapa cara yang bisa diterapkan dalam menghadapi orang-orang menjengkelkan ini. 
  • Jangan harap mereka akan mudah dihadapi. Setelah Anda menemukan orang yang seperti itu, sesuaikan ekspektasi Anda sehingga Anda tidak tersakiti oleh tindakan dan ucapan mereka, dan ciptakan jarak emosional.
  • Kuatkan diri sendiri.  Saat jenis orang dengan karakter negatif seperti ini tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka akan mendesak Anda hingga Anda gusar dan terpancing sehingga pikiran Anda tak lagi jernih. Yakinkan pada diri sendiri bahwa ini adalah masalah mereka, bukan Anda. Sebagian besar orang berkarakter buruk memprovokasi karena sering menyembunyikan sesuatu seperti ketidakmampuan, keengganan melakukan sesuatu dan dengan memancing orang lain untuk melakukan apa yang mereka inginkan, mereka akan menyesatkan kita dari tujuan kita semula.
  • Biarkan mereka berbicara. Menyela akan memperburuk situasi. Jagalah temperamen Anda sampai orang tersebut mundur dengan sendirinya. Jika saatnya memberikan tanggapan sudah ada, Anda bisa memberikan tanggapan yang efektif dan netral.
  • Singkirkan mereka. Sebagai entrepreneur, jangan biarkan orang-orang seperti ini menyerap energi positif Anda dan semua staf perusahaan Anda. Begitu Anda menemukan orang dengan karakter seperti ini, jangan tunda untuk menyingkirkannya sebelum dampaknya meluas. (ap)

Pentingnya Pelajari Perilaku Konsumen

Monday, 4 August 2014  3 hari yang lalu   (hits 195)


Apa yang harus disadari oleh entrepreneur saat ini ialah bahwa dunia terus berubah dengan cepat. Tentu saja itu sesuatu yang klise dan apa yang harus dilakukan setelah kita memahaminya? Itu artinya Anda harus bisa meramal perilaku konsumen bahkan sebelum mereka melakukannya.
Hal terpenting ialah tak peduli bidang atau segmen bisnisnya, tetapi Anda perlu selalu mempelajari perilaku konsumen yang terbaru. Jika Anda menemukan ide untuk produk bisnis atau layanan atau bahkan jejaring sosial, bidiklah para konsumen yang menjadi sasaran Anda dan pahami perilaku mereka dalam membelanjakan uang saat ini dan kemudian apa saja yang menjadi pos pengeluaran utama mereka saat ini, dan kemudian apa yang Anda hendak tukarkan dengan pengeluaran tersebut kemudian. Itu karena pekerjaan utama entrepreneur ialah bukanlah bagaimana memulai sebuah bisnis baru tetapi bagaimana mempelajari untuk mengubah transaksi.
Jadi Anda bisa fokus kemudian pada siapa saja konsumen Anda dan apa yang mereka sering lakukan. Jangan cemas soal teknologi karena akhirnya nanti konsumen hanya peduli bagaimana memiliki produk Anda bukan bagian-bagian penyusun produk Anda.
(ap)

Morgan Stanley Masih Jadi Penguasa Pasar Layanan Keuangan Dunia

Monday, 4 August 2014  3 hari yang lalu   (hits 152)


Morgan Stanley (MS) dikenal banyak orang sebagai korporasi besar yang menguasai pasar layanan keuangan. Perusahaan multinasional Amerika Serikat ini bermarkas di Morgan Stanley Building, Midtown Manhattan, New York City.
Dengan skala bisnisnya yang tidak tertandingi, Morgan Stanley kini beroperasi di 42 negara di dunia dan memiliki lebih dari 1300 kantor dan 600 ribu orang pegawai yang tersebar di kota-kota tadi. Perusahaan melaporkan US$1,9 triliun dalam aset-aset klien di bawah manajemen di akhir tahun 2013.
Perusahaan yang didirikan oleh mitra-mitra J.P. Morgan & Co. Henry S. Morgan (cucu J.P. Morgan), Harold Stanley dan yang lainnya, masuk dalam dunia bisnis sejak 16 September 1935 sebagai tanggapan atas Glass-Steagall Act yang mewajibkan perusahaan perbankan memisahkan investasi dan komersial. 
Dalam tahun pertamanya, MS berjalan dengan merengkuh pangsa pasar 24% (1,1 miliar dollar AS) dalam penawaran saham perdana (IPO) dan penempatan aset swastanya. Bidang-bidang bisnis utamanya saat ini ialah Manajemen Kekayaan Global, Sekuritas Institutional, dan Manajemen Investasi.
Peran dan jatidiri Morgan Stanley dalam dunia pasca resesi masih belum signifikan meskipun pendapatan mereka yang menguat di kuartal kedua tahun lalu. MS berencana untuk membeli kembali sahamnya senilai US$500 juta.
Sejak krisis keuangan melanda dunia, keputusan MS untuk mengubah model bisnisnya dengan menurunkan bisnis manajemen kekayaan dan perdagangan telah memicu kinerja yang buruk dan memunculkan pertanyaan di antara penanam modal.
Setelah melakukan sejumlah kesalahan, MS mulai mengelola ekspektasi pemegang saham eksternal dengan lebih baik dan memberikan prioritas startegis yang utama.
Juni 2013 menjadi saksi  bagi MS atas prestasinya meraih persetujuan dari regulator di negeri Paman Sam untuk membeli saham sisanya di usaha patungan Morgan Stanley Smith Barney.
Keputusan MS untuk merekrut mantan pejabat keuangan dan Gedung Putih Michele Davis sebagai Kepala Bidang Korporat Global menunjukkan bagimana MS ingin menjelajahi regulasi baru, mengeloal komunikasi eksternal, dan akhirnya memperkuat persepsi brandnya. (ap)

Pola Pikir Sederhana Jared Cocken Dalam Entrepreneurship

Monday, 4 August 2014  3 hari yang lalu   (hits 230)


Sebagai intrapreneur, Jared Cocken (36) bekerja sebagai seorang desainer di New York. Berasal dari Inggris, Cocken menggemari desain dan teknologi terkini dan telah menciptakan banyak benda dengan komputer sejak hari yang bersejarah saat sang ayah mengganti sebuah TV hitam putih di rumah dengan sebuah Sinclair ZX81, yang RAMnya sepersejuta kali dibandingkan RAM iPhone terbaru Anda.
Minatnya yang tinggi dalam dunia teknologi dan desain mengantarkannya menduduki posisi Chief Product Officer di Fitocracy. "Saya sangat bersemangat,"ujarnya. Selain kedua topik itu, Cocken gemar membahas kebugaran, psikologi dan pentingnya kemajuan bangsa. Tak heran, wawasannya cukup luas, tak sebatas dunia teknologi.
Sebelumnya ia bekerja sebagai Direktur Kreatif di agensi top New York, Wonderfactory (Time, National Geographic, Condé Nast, Google) dan di dekade 1990-an, turut mendirikan toko desain London WDM (MTV, Alexander McQueen, BBC, British Airways). WDM terjual tahun 2001 dan memiliki sejumlah kantor di London, Dublin, Portugal dan Sydney. Tak cuma itu, jejak karirnya yang lain ialah pencuci lori (truk) saat masih berusia 11 tahun dan menjual roti isi saat berusia 15 tahun sehingga ia bisa membeli tiket Redding Festival untuk menyaksikan pertunjukan Public Enemy.
Saat Jared tidak bekerja sebagai intrapreneur, ia mencurahkan minat dalam dunia fotografi, pembuatan fim dan mengkoleksi karya-karya seni kontemporer.
Yang paling menarik saat bekerja di Fitocracy menurut pria ini adalah bahwa mereka bersama mencoba membangun sesuatu yang bermakna. "Kita banyak membahas Reformasi Perawatan Kesehatan, tetapi lupa dengan upaya menekankan kebugaran sebagai pencegahnya, terutama di AS,"pungkas profesional satu ini menyatakan opininya yang berbeda.
Sebagai Chief Product Officer, ia memiliki visi produk masa depan yang unik. Dibutuhkan 4 poin untuk sukses: pengetahuan, konsistensi, pencatatan dan motivasi. "Kami akan menjawab semuanya,"katanya meyakinkan. (ap)

Nick Balletta: Kalau Terlalu Rakus, Hasilnya Nol!

Monday, 4 August 2014  3 hari yang lalu   (hits 161)


Nick Balletta memang sudah tidak muda lagi. Dalam usianya yang ke-47, ia memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai untuk menyusun strategi, rencana yang jitu di tengah dunia bisnis yang makin kompetitif.
CEO TalkPoint ini adalah seorang pemimpin industri yang diakui kiprahnya di teknologi komunikasi dunia. Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun dalam media dan teknologi, ia menjadi pionir dalam bidang komunikasi dan webcasting interaktif. Nick meluncurkan perusahaan pertamanya "Voyager Data Networks" pada tahun 1996 dan menjualnya dua tahun kemudian. Saat itu ia memiliki pandangan jauh ke depan untuk berinvestasi pada bidang media streaming yang tampak menjanjikan.
Tahun 1998, ia mendirikan pendahulu TalkPoint, "NextVenue". Di sini ia bekerja sama dengan CNBC, Microsoft, NBC dan Dow Jones. Ia memimpin ekspansi globalnya dan penyatuan bisnis dalam perusahaan media streaming iBeam Broadcasting. Di iBeam, ia menjadi presiden layanan perusahaan dan anggota dewan sebelum membeli perusahaan kembali yang kini dikenal sebagai TalkPoint di tahun 2003.
Lulusan program MBA di Rutgers Graduate School of Management ini berusaha menjaga keseimbangan hidup dengan menghabiskan waktunya berlomba thriatlon saat waktu senggang agar tetap bugar dan berpikiran jernih saat bekerja sebagai entrepreneur.
Menurutnya sejumlah langkah utama mencakup penetapan struktur kapital yang tepat bagi perusahaan dan kemudian memastikannya dikapitalisasikan dengan baik. Setelah pondasi didirikan dengan kokoh, baru bisa berfokus pada kompetensi utama perusahaan, ujarnya. "Secara definisi, jika terlalu banyak target, Anda akan mendapatkan hasil nihil,"pungkasnya. Fokus menjadi inti utamanya menjalankan bisnis rupanya. (ap)